Biografi Taqiyyuddin An-Nabhany



Beliau adalah Syaikh Taqiyyuddin bin Ibrahim bin Ismail an-Nabhany Rahimahullah, seorang pemikir Islam yang aqidahnya terpengaruh oleh Asy’ariyyah, Maturidiyah dan Mu’tazilah. Beliau adalah cucu dari seorang shufi ghulat (sufi ekstrim) y ang terkenal, Yusuf bin Ismail an-Nabhany, penulis kitab Jami’ Karomaat al-Awliyaa’ dan Syawahidul Haqq fil istighotsah bi sayyidil kholqi yang penuh dengan keganjilan-keganjilan shufiyyah yang banyak diadopsi kesultanan Utsmaniyyah.  Syaikh Mahmud Syukri al-Alusi telah membantahnya dalam Ghoyatul amaaniy fi roddi ‘alan Nabhany.
Beliau dilahirkan tahun 1905 di desa Ijzim, dekat kota Hifa. Beliau menghafal al-Qur’an dan belajar fiqh pada ayahnya, Syaikh Ibrahim an-Nabhany Rahimahullah. Beliau alumnus al-Azhar Mesir dan pernah menjabat sebagai Qodhi di Mahkamah Syari’ah, dan pada tahun 1950 beliau menjadi anggota Mahkamah Isti’naf asy-Syari’ah.
Tanggal 10 Desember 1977 beliau wafat di Libanon dengan meninggalkan karangan yang cukup banyak dan karyanya menjadi referensi acuan gerakan dan pemikiran Hizbut Tahrir, diantaranya :
- Nidhomul Islam (Peraturan hidup dalam Islam)
- Nidhomul hukmi fil Islam (Sistem Pemerintahan Islam)
- Nidhomul Iqtishodi fil Islam (Sistem Ekonomi Islam)
- Nidhomul Ijtima’i fil Islam (Sistem Pergaulan dalam Islam)
- At-Takattul Hizby (Pembentukan Partai)
- Asy-Syakhshiyah al-Islamiyyah 3 jilid (Kepribadian Islam)
- Nida’ul haar ila aalamil Islamy (Seruan kepada dunia Islam) Dan beberapa kitab lainnya.

Kitab-kitab di atas banyak sekali menyelisihi pemahaman Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan terpengaruh oleh filsafat mu’tazilah. Sebagian besar kitab-kitab di atas telah diterjemahkan oleh penerbit Pustaka Thoriqul Izzah dan al-Izzah, penerbit yang menyebarkan faham Hizbut Tahrir.
[baca : al-Jama’at al-Islamiyyah hal. 287, Hizbut Tahrir Munaqosyah Ilmiyyah hal. 10 dan Hizbut Tahrir hal 27-29), dan Mawsu’ah al- Muyassarah hal. 344].

Sumber: “Ada Apa Dengan Hizbut Tahrir, Tanya Jawab Bersama Syaikh Salim Ied Al-Hilaly, Alih Bahasa Abu Salma Al-Atsari, hal 14-15


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama