Dua Hal Utama Yang Membuat Ucapan Kita Bermanfaat


Saat menonton di televisi atau media sosial, kita melihat orang-orang yang bergelar intelektual  tidak mengeluarkan asumsi dan opini yang tidak masuk akal dan cenderung menghina.

Akan tetapi sebagai seorang muslim, tatkala melihat orang berstatus muslim berbicara hal-hal yang dia ungkapkan entah kenapa keluar kalimat dan gaya bicara yang menyebalkan.

Ucapan bisa saja disebut sebagai ekspresi dari hati dan mental, tetapi saat berbicara dengan nada tinggi, saling memotong pembicaraan dan menggunakan emosi. Disanalah kita merasa ada sesuatu yang kurang.

Seorang muslim tidak seharusnya menggunakan emosi dan hawa nafsu guna mementingkan diri dan golongan yang dia bela, hal ini sering terjadi ketika dialog antar kepentingan dan golongan, kalau melihat kayak gini entah kenapa bukan enak bawaannya tetapi sebal dan kesal gak jelas.

Katanya muslim, ngomong aja berantakan dan emosi gitu.

Karena itu, kita harus memahami gaya bicara sebenarnya yang sesuai dengan etika dan adab sebagai seorang muslim. Agar di kemudian hari jika kita memiliki kesempatan untuk berdialog kita tidak terkuasai oleh emosi yang tidak jelas.

Nah ada dua poin utama dalam gaya bicara seorang muslim, insyaallah jika dia bisa mengamalkan dua perkara ini, maka emosi akan terjaga. Apakah itu?


1. Kendalikan kecepatan berkata-kata

Omongan yang cepat dan berturut-turut memang terdengar bagus ditelinga sendiri namun sebenarnya terdengar menyebalkan di telinga orang lain. 

Selain susah dicerna dan dipahami oleh semua orang, ucapan yang terlalu cepat menggambarkan karakter pembicara yang terkesan terburu-buru dan ingin mendominasi dialog.

Karena itu ucapan harus jelas dan benar, dalam satu riwayat lain jika seandainya seseorang ingin menghitung ucapan rasul kata demi kata pastilah terhitung karena jelas dan perlahan.

Tidak ada salahnya kan kita mencontoh Rasul ucapannya tenang dan pelan, sehingga mudah dipahami,

Jadinya simple tapi mengarah ke makna.  Beda dengan orang yang berbicara cepat dan tidak terkendali banyak kata, makna entah kemana.


2. Jangan Banyak Bicara Dan Sombong Dalam Pembicaraan 


Berdasarkan sabda nabi SAW:
“Sesungguhnya orang yang paling aku benci dan paling jauh dariku nanti di hari Kiamat ialah orang yang banyak bercakap dan berlagak dalam berbicara.” Maka dikatakan: Wahai rasulullah kami telah mengetahui arti ats-tsartsarun dan mutasyaddiqun, lalu apa makna al-mutafayhiqun? Maka jawab nabi SAW: “Orang2 yang sombong.” (HR Tirmidzi dan dihasankannya)

Hadis diatas sudah menjelaskan bahwa manusia memang memiliki beragam sifat salah satunya adalah banyak bicara, jika sebelumnya berkata cepat sekarang berkata banyak. 

(Nah, kalau dua-duanya digabung habislah, hehehe..)

Orang yang banyak berkata-kata biasanya ingin menunjukan apa isi kepala dan yang dipahami kepada orang lain. Nah, dari sinilah jika “cerewet” tidak bisa dikendalikan maka dia akan mendominasi pembicaraan. Termasuk tidak mau kata-katanya di potong atau disela oleh pendengarnya.

(Kan tidak manusiawi, ingin didengar tapi tidak mau mendengar :P ……….)

Setelah itu yang perlu dijauhi adalah berlagak dalam berbicara, atau menunjukan kemampuan diri dengan penuh kebanggan dan kepuasan.

Dimulai dari keinginan menunjukan diri di hadapan pendengar atau teman bicara.

(kalau untuk anak-anak memang disarankan menunjukan kemampuan diri didepan umum tapi kalau untuk dewasa kayaknya kekanak-kanakan…..)

Jika sering dilaksanakan maka sifat seperti ini akan menjadi kebiasaan, ditanya gak ditanya, dipinta gak dipinta, disuruh gak disuruh tetap aja mau menunjukan kemampuan diri lewat bicara.

Karena itu, hati-hati. Tunjukanlah kemampuan kita dalam bicara ketika benar-benar dibutuhkan dan diminta jika tidak maka tidak perlu, kesannya bukan bagus tapi malah mempermalukan diri sendiri. 

Dari berlagak berbicara inilah muncul satu sifat yang tidak sesuai dengan etika umum dan etika agama, yaitu sombong.

Ketika menunjukan kemampuan berbicara dan melihat orang lain tidak mampu maka muncul rasa kebanggaan diri, kesombongan dan ujung-ujungnya takabur (merendahkan orang lain).

Jika demikian, penyakit sombong sangat sulit dihilangkan berbicara dengan siapapun akan merasa tinggi dan lebih dari lain. Jangankan mengingatkan orang lain, melihat dan mendengar bicara saja mungkin orang lain sudah muak dan kesal.

Karena itu, mari kita mulai dari diri sendiri menuju etika berbicara muslim yang sebenarnya, supaya terhindar dari satu penyakit yang bisa memakan habis semua pandangan baik orang, pahala dan menyesatkan ke arah neraka.

Semoga penulis dan para pembaca bisa mendapat hikmah dari tulisan ini dan menjadi diri yang semakin baik dalam ber-komunikasi dengan siapa pun.

Lebih baru Lebih lama